Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal". (Al Imran :190) Dalam ayat diatas kita diberi petunjuk, setidaknya tersirat beberapa makna antara lain adalah: alam semesta yang senantiasa berproses tanpa henti dan menyajikan banyak sekali gejala dalam Haiii makasih udah mau singgah di blog gue yang berisikan tentang curhatan gue dan catetan-catetan kecil yang gue ambil dari isi pokok hadist-hadist, yang pastinya karangan gue sendiri ;)) Selamat membaca bro/sist ;) Pages. Beranda; Ayat-ayat Al Quran Berhubungan dengan ilmu fisika. Kelompokbinatang-binatang tersebut juga dapat didefinisikan secara jelas, yakni binatang dengan jumlah kaki yang sama. Dalam Al-Qur'an surat Al-Fathir ayat 1 dan An-Nur ayat 45 itulah terdapat konsep matematika, yaitu kumpulan objek-objek yang didefinisikan secara jelas. Teori inilah yang dalam matematika dinamakan dengan Teori Himpunan. 2. MuinSalim, Metodologi Ilmu Tafsir (Yogyakarta : Teras, 2005), 55. 6 Khâlid ibn Utsmân al-Sabt, Qawâ'id al-Tafsîr: Jam'an wa Dirâsatan (t.tp: Dâr ibn Affân, t,th), Juz I, 30. f 4 Adapun syarat-syarat yang dimiliki oleh pengetahuan ilmiah adalah: Harus memiliki objek tertentu (formal dan material) dan harus bersistem (harus runtut). sejatinya matematika telah menjadi salah satu kandungan dan petunjuk utama dalam alquran, hal ini dapat ditemukan dalam kalimat afala tafakkaruun (apakah kalian tidak berfikir), afala ta'filuun (apakah kalian tidak bernalar) dan afala tadzakkaruun (apakah kalian tidak belajar) yang terdapat dalam q.s ali imran ayat 13, q.s al-a'raf ayat 179 Adaenam bencana alam yang disinggung Alquran, seperti banjir, gempa, angin. topan, hujan batu, kemarau, dan kelaparan. Dari keenam bencana alam itu, diskusi. mengenai bencana apakah sebagai ujian atau siksa, diketahui lebih banyak sebagai siksa. Meski demikian, bencana tidak bisa dicegah, hanya bisa diantisipasi saja. . Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Sebelum memahami apa itu integrasi, terlebih dahulu kita harus paham apa hakikat ilmu secara umum. Secara singkat, ilmu didefinisikan sebagai terorganisasinya pengentahuan. Pada umumnya pengetahuan diartikan sebagai keseluruhan atau segala sesuatu yang dapat diterima oleh indra umum adalah ilmu yang diperoleh atau dicapai dengan melalui akal pikiran manusia semata. Al-Ghazali membagi ilmu-ilmu umum menjadi beberapa kategori ilmu, diantaranya ilmu Matematika, ilmu Alam atau ilmu Fisiska, ilmu Logika, ilmu mengenai wujud di luar Alam atau metafisika. Berdasarkan kategori tersebut dapat dilihat baha ilmu umum lebih identic dengan ilmu agama dalam dunia akademik memiliki kata yang serupa dengan “Islamic sciences”. Setidaknya ilmu-ilmu agama sebagai “Islamic sciences” dimaknai dalam dua perspektif. Yaitu dalam perspektif filosofis dan perspektif tradisi atau kesejarahan. Dalam perspektif tradisi atau kesejarahan berdiri para akademikus dan pemikir Barat dan sebagian kecil akademikus muslim memaknai ilmu-ilmu keislaman merupakan ilmu-ilmu yang berkembang ditengah tradisi umat islam, sebgaimana yang kita kenal seperti Hadits, Fiqh, Tafsir, Tasawuf, Kalam, dan lain sebgainya. Integrasi ilmu merupakan gabungan struktur ilmu. Integrasi ilmu dapat dikatakan sikap kompetisi atau profesionalisme mengenai satu keilmuan yang sifatnya duniawi dalam bidang tertentu yang dibangun dengan pondasi kesadarn kesadaran ketuhanan akan tumbuh melalui pengetahuan dasar mengenai ilmu-ilmu Islam. Singktanya, integrasi ilmu merupakan penguasaan sains dan teknologi yang digabungkan dengan ilmu-ilmu Islam. Menurut KBBI, “Matematika adlah ilmu yang berkaitan dnegan bilangan-bilangan, hubungan antar bilangan atau ilmu hitung”. Matematika merupakan cabang dari ilmu sains yang terorganisir secara sistematis dan merupakan ilmu yang digunakan untuk mengembangkan cara merupakan bidang diantara dua garis yang bertemu pada suatu titik. Sudut dibagi menjadi empat macam, yaitu sudut lancip, sudut siku-siku, sudut tumpul, dan sudut lurus. Di dalam sudut terdapat istilah sudut istimewa, sudut istimewa adalah sudut yang nilai perbandingan trigonometrinya ditentukan nilainya tanpa perhitungan kalkulator. Diantara sudut-sudut istimewa antara lain 0°, 30°, 45°, 60°, 90°, 120°, 135°, 150°, 180°.Penggambaran sudut dapat dilihat dari peristiwa gerhana pada saat bulan, matahari dan bumi sejajar maka akan menghasilkan bertemunya dua sinar yang memiliki titik akhir. Dapat dilihat dari beberapa penjelasan ayat Al-Qur’an diantaranya QS. Ar-Rahman 5, QS. Al-Anbiya 33, QS. Ar-Ra’ad 2, QS. Yaasin 38, QS. Yyasin 40. Kumpulan ayat tersebut menjelaskan bahwasudut beserta satuannya sudah ada ketetapannya didalam Al-Qur’an sejak dahulu. Dimana matahari berputar mengelilingi bumu, bulan berputar mengelilingi bumi, yang semuanya sudah dijelaskan oleh Allah dalm Al-Qur’an. Peredarannya mulai dari bulan baru sampai hingga bulan penury adalah sebesar 180° dan dari bulan penuh menjadi bulan mati adalah sebesar 360°. Berikut merupakan beberapa kajian mengenai sudut-sudut istimewaSudut 0°Sudut 0° merupakan sudut yang nilai derajatnya paling kecil, sudut 0° terjadi apabila kaki-kaki sudut yang dimiliki saling berhimpit, akibatnya daerah sudutnya tidak terbentuk atau hanya berupa sebuah titik. Dijelaskan dalam QS. Al-Mursalat 38-39 yang artinya ” Dan apabila dikatakan kepada mereka "Rukuklah, niscaya mereka tidak mau ruku'[1543], kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. “QS. AL-Mursalat 38-39 dan juga dijelaskan dalam QS. Al-Maa’un 4-5 yang artinya “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya.”QS. AL-Maa’un5Dari ayat tersebut dapat diambil hikmah bahwa ketika suatu kebaikan yang seharusnya dilaksanakan akan tetapi tidak dilaksanakan maka tidak ada nilai kebaikan di dalamnya nol derajat, dari kedua surah tersebut menjelaskan orang yang melalaikan shalat maka ia akan celaka dan rendah derajatnya. Kata “rendah derajat” berhubungan dengan nilai dari sudut istimewa yang paling rendah, yakni nol derajat. Dari contoh tersebut dapat diambil hikmah bahwa sebagai hamba Allah sudah seharusnya kita tidak lalai dalam menjalankan perintah-Nya. Dengan kita menjalankan perintah-Nya maka Allah akan mengangkat derajat hamba-Nya di 30°Sudut 30° merupakan sudut yang menduduki urutan kedua dari sudut istimewa. Sudut 30° masuk dalam kategori sudut lancip. Sudut 30° berhubungan dengan ayat Al-Qur’an pada QS. A-Ruum yang merupakan surah urutan ke-30 . dalam surah Ar-Ruum menjelaskan petunjuk arah menuju sebuah wilayah yang tepatnya adalah kerajaan Romawi. hal tersebut telah dikaji dan manghasilkan keterkaitan surah Ar-Ruum dengan pusat kekuasaan Romawi membentuk sudut yang besarnya adalah 30°.Sudut 45°Sudut 45° termasuk dalam kategori sudut lancip. Bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari yang terdapat pada gerakan shalat yakni sujud. Sesuai dengan penjelasana hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim, bahwa ada beberapa anggota badan yang wajib menempel pada lantai, diantaranya kedua kaki, kedua lutut, kedua tangan, kening, dan dipraktekkan gerakan suduj tersebut membentuk sebuah sudut yang besranya adalah 45°. Terdapat nilai pelajaran yang bisa diambil bahwa dengan bersujud kita dapat mendekatkan diri kepada Allah 60°Sudut 60° memiliki hubungan dengan bangun datar yakni segitiga sama sisi yang sudutnya sama besar yaitu 60°. Segitiga sama sisi terbentuk dari hubungan antara sudut satu dan sudut dua yang letaknya sejajar yang dihubungkan oleh dua garis yang panjangnya QS. Al-Fajr 30 terdapat kata syaf’I dan watr tang artinya genap dan ganjil. Jika dihubungkan, ayat tersebut menggambarkan bentuk segitiga sama sisi dengan 1 puncak dan memiliki 2 sisis yang sama segitiga sama sisi tersebut juga berkaitan dengan QS. An-Nisa 36 dan QS. An-Nisa 59 yang menjelaskan bahwa kedudukan yang ganjil adalah Allah dan kita tetap harus menghormati kedua orang tua kita. Seperti perintah dalam QS. Maryam 90°Sudut 90° merupaka sudut yang bentuknya siku-siku. Digambarkan lagi sudut 90° dalam kehidupan sehari-hari berupa gerakan shalat, yakni ruku’. Dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan imam Muslim bahwa cara melakukan ruku’ yang benar adalah posisi kepala dan punggung rata, dan diibaratkan jika kita meletakkan air didalam wadah diatas punggung orang yang ruku’ maka wada tersebut tidak jatuh, dan air dalam wadah tersebut tidak tumpah. Jika dipraktekkan posisi ruku’ tersebut menggambarkan sudt istimewa yang besarnya adalah 90°. Apabila kita melakukan ruku’ dengan benar akan mempunyai dampak positif yang dapat menyehatkan tubuh hubungan-hubungan sudut diatas diperoleh beberapa wacana pengetahuan. Al-Qur’an merupakan salah satu kunci yang dijadikan teori dilakukannya penelitian yang memiliki makna sangat penting bagi kehidupan manusia di bumi ini. Kita sebgai manusia hendaknya selalu bersyukur kepada Allah, dan mengimplementasikan rasa syukur tersebut tidak hanya dari hati dan ucapan, namun juga dari perbuatan. Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya Buku berjudul Ayat-ayat Matematika karya Muzakkir Syamaun guru MUQ Pidie, Aceh. Foto Dok. Muzakkir Seorang guru di Kabupaten Pidie, Aceh, Muzakkir Syamaun, menulis sebuah buku mengenai konsep matematika yang berkaitan dengan ayat Alquran, kitab suci umat Islam. Melalui buku berjudul 'Ayat-ayat Matematika', guru Madrasah Ulumul Quran MUQ Pidie ini ingin mengenalkan matematika dari sudut pandang agama mengatakan konsep yang ditulis dalam buku setebal 100 halaman itu sudah lama ia praktekkan saat mengajar di ruang kelas. Menurutnya, ide menulis buku itu berawal dari siswanya yang menganggap pelajaran matematika tidak perlu dipelajari karena tidak berhubungan dengan agama."Siswa ada yang bilang begini untuk apa belajar matematika, kan tidak dibawa ke dalam kubur. Setelah itulah saya tertarik mengaitkan konsep matematika dengan fiqih dan tauhid dalam Islam," ujarnya kepada acehkini, Minggu 31/5.Muzakkir Syamaun memegang buku karyanya yang berjudul Ayat-ayat Matematika. Foto Dok. PribadiMenurut Muzakkir, konsep tauhid dan fiqih dalam Islam ternyata sangat berkaitan dengan matematika. Misalnya mengenai harga mutlak dijelaskan pada surat Al-An'am dalam itu juga ada konsep limit pada surat An-Nisa dan konsep pola bilangan pada surat Al-Baqarah, serta konsep lainnya. Muzakkir menyebut, buku itu mengubah pandangan sekularisasi pendidikan matematika yang dianggap sebagai pelajaran duniawi buku karya Muzakkir Syamaun seorang guru di Aceh. Foto Dok. Muzakkir"Pada hakikatnya konsep matematika sangat banyak tersimpan dalam Alquran. Sehingga buku ini akan mengkaji konsep dalam ayat-ayat Alquran yang berkaitan dengan matematika baik secara tersirat maupun tersurat," berharap bukunya itu akan menjadi referensi untuk memahami matematika dengan konsep keagamaan. Sehingga guru yang mengajar tidak hanya melihat matematika sebagai angka dan simbol."Semoga ini menjadi solusi atas kebosanan dan ketakuatan anak-anak terhadap pelajaran matematika," tuturnya. MATEMATIKA DALAM AL-QUR’AN Oleh Nurul Syifa Azzahra* Bismillâhi Walhamdulillâhi wash-shalâtu wassalâmu ala rasûlillâh, Penyebutan ilmu matematika secara khsusus dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tersurat, namun disebutkan secara tersirat. Sebagaimana penyebutan bilangan-bilangan angka yang merupakan sebuah dasar dari matematika. Penyebutan angka-angka ini menunjukkan perhatian al-Qur’an terhadap bidang ilmu, khususnya matematika. Juga bukanlah secara kebetulan atau asal bunyi. Semuanya telah ditetapkan dengan komposisi yang jelas dan akurat. Tidak ada kesalahan sedikitpun. “Kitab al-Qur’an ini tidak ada keraguan di dalamnya dan ia menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa”. Al-Baqarah [2] 2. Al-Qur’an ini mencakup segala tata aturan kehidupan, dan selalu dijadikan hujjah bagi segala hal yang berkaitan dengan ibadah ataupun yang lainnya. Al-Qur’an yang tiada keraguan didalamnya adalah petunjuk bagi manusia khususnya mereka yang beriman dan bertakwa kepada Allah l. Al Qur’an sebuah kitab suci agama Islam sebagai sumber pokok ajaran agama. Dengan demikian al-Qur’an sebagai kitab petunjuk bagi setiap insan untuk memperoleh kebahagiaan dan keselamatan hidup dunia dan akhirat. Sumber Ilmu Dalam al-Qur’an terdapat pentunjuk bagaimana manusia cara memperoleh ilmu pengetahuan. Ditemukan banyak ayat yang memberi isyarat kebenaran ilmu pengetahuan dan hakikat ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itu ada dua sumber, yaitu pertama ayat al-Matluwah yang dapat dibaca yakni al-Qur’an dan kedua ayat al-Majluwah yang dapat dilihat yakni alam semesta. Keduanya bersumber dari Allah l ayat al-Matluwah adalah firmannya dan ayat al-Majluwah adalah ciptaannya. Inilah hakikat ilmu pegetahuan yang tak terbatas. Al-Qur’an dapat memberikan ilmu pengetahuan kepada manusia secara langsung, sebagaimana diberikan kepada para Nabi dan Rasul. Allah l memberikan ilmu pengetahuan kepada mereka yang bukan para Nabi dan Rasul melalui proses pembelajaran dan aktualisasi potensi akal dan qalbu serta indera yang telah Allah l anugerahkan kepada manusia sejak lahir. Maka ilmu pengetahuan hendaknya di abadikan untuk Allah l, yaitu ketika seseorang yang berilmu maka seharusnya semakin bertambah ilmunya semakin bertambah keimanan dan ketakwaannya kepada Allah l. Banyak ayat-ayat al-Qur’an memberikan petunjuk dan dorongan agar manusia menggunakan akal pikiran, hati, indera mata, telinga untuk memperoleh pemahaman dan pengetahuan. Hakikat ilmu pengetahuan dalam al-Qur’an adalah rangkaian aktivitas manusia dengan prosedur ilmiah baik melalui pengamatan, penalaran, maupun intuisi, serta mengandung nilai-nilai logika, estetika, hikmah, rahmah dan petunjuk bagi kehidupan manusia baik di dunia maupun di kemudian hari. al-Qur’an banyak mengandung nilai-nilai empirik serta isyarat yang diberikan pengetahuan baik melalui ayat-ayat tertulis yaitu al-Qur’an, maupun ayat-ayat yang terbentang luas dialam semesta beserta isinya. Pengembangan Ilmu Pengetahuan Allah l telah meletakkan garis-garis besar sains dan ilmu pengetahuan dalam al-Qur’an. Manusia hanya tinggal menggali dan mengembangkan konsep dan teori yang sudah ada. Antara ilmu pengetahuan dan al-Qur’an terdapat kaitan erat. Akan tetapi keterkaitan antara keduanya disesuaikan dengan porsi yang sesuai. Al-Qur’an ini digunakan untuk mengembangkan matematika, misalnya dalam al-Qur’an terdapat bahwa al-Qur’an berbicara mengenai kelompok, golongan, atau kumpulan. Dalam al-Qur’an surat Fathir [35] 1 dan surat An-Nur [24] 45. Berdasarkan dua ayat tersebut terdapat dua konsep yang terkandung di dalamnya dan dapat dikembangkan lebih lanjut. Pertama, konsep mengenai kelompok atau kumpulan objek-objek dengan sifat tertentu yang disebut dengan himpunan. Kedua, konsep bilangan yang dalam masing-masing ayat tersebut dinyatakan dalam banyak sayap dan banyak kaki. Itu merupakan konsep yang berkaitan dengan himpunan. Himpunan adalah kumpulan objek-objek yang terdefinisi dengan jelas.[1] Keajaiban Statistik Al-Qur’an sendiri telah memberikan bukti konkret tentang statistika. Dalam al-Qur’an terdapat keajaiban statistik statistical miracle dalam penyebutan kata. Dalam masalah mengumpulkan data matematika yaitu mencatat atau membukukan data, al-Qur’an juga membicarakannya.[2] Matematika digunakan untuk melaksanakan perintah-perintah Allah l yang termuat dalam al-Qur’an. Sebagai contoh, Matematika digunakan dalam konteks fikih, yaitu penentuan ukuran dua kulah, shalat, puasa, zakat, haji, dan pembagian harta waris faraid. Matematikawan Muslim terdahulu mempelajari Matematika terutama untuk masalah faraid, pembuatan kalender, penentuan arah kiblat, perhitungan waktu shalat, penentuan nilai zakat, dan untuk muamalah lainnya. Matematika diajarkan dengan tujuan untuk digunakan dalam melaksanakan tugas penghambaan sekaligus tugas kekhalifahan. Matematika diajarkan dalam rangka mengembangkan potensi intelektual sekaligus potensi spiritual. Penyebutan اَفَلَا تَتَفَكَّرُوْنَ apakah tidak berpikir, اَفَلاَ تَعْقِلُونَ apakah tidak bernalar, dan اَفَلاَ تَذَكَّرُوْنَ apakah tidak belajar mendorong manusia untuk mengembangkan potensi intelektualnya. Potensi intelektual tidak cukup karena al-Qur’an juga menyebutkan potensi spiritual untuk dikembangkan, misalnya pada Ali Imrân [3] 13, al-A’râf [7] 179, dan al-Hajj [22] 46. Otak head/kognitif dan hati heart/afektif dikembangkan melalui pembelajaran Matematika untuk menghasilkan amal saleh hand/psikomotorik. Matematika dan Kandungan Nilai-Nilai al-Qur’an Matematika dikaitkan dengan kandungan nilai-nilai al-Qur’an. Matematika dilandasi nilai-nilai al-Qur’an untuk mengembangkan akhlaqul karimah dalam rangka mencipta manusia menjadi khairaummah yang diliputi amilushshalihah. Nilai-nilai al-Qur’an diinternalisasi melalui Matematika. Kajian terkait internalisasi nilai Islami dalam Matematika telah dilakukan. Dilakukan internalisasi nilai-nilai al-Qur’an melalui materi aljabar. Strategi internalisasi yang dilakukan adalah; infusi menekankan aspek nilai al-Qur’an yang ada dalam materi, analogi melakukan analogi nilai kebaikan, uswah hasanah menunjukkan perilaku yang patut dicontoh terkait matematika misalnya kejujuran, kesungguhan, ketepatan, ketaatan, dan ketelitian.[3] Matematika merupakan ilmu yang berkembang sehingga pada zaman dahulu hanya ditemukan dasar-dasarnya saja tidak seperti zaman sekarang. Sejarah Matematika juga tidak banyak orang yang tahu sehingga sebagian orang menganggap Matematika bukan ilmu yang harus dipelajari oleh umat Islam, padahal pada masa kejayaan Islam, Matematika merupakan kajian yang sangat penting. Mengenai sejarah Matematika dapat dilihat bahwa para ilmuwan Muslim ikut berkontribusi dalam mempelajari dan mengembangkan Matematika. Salah satu ilmuwan yang paling terkenal adalah Al-Khawarizmi, ia dijuluki dengan gelar “bapak Aljabar” karena dia menemukan dasar Matematika dengan konsep yang mudah, penemu angka nol, dan penemu ilmu tertinggi dalam Matematika yaitu logaritma. Matematika termasuk ilmu yang datang dari Allah l. Dalam al-Qur’an banyak ayat-ayat yang menunjukkan Matematika, yaitu mengenai bilangan, hubungan antara bilangan, dan prosedur operasional. Matematika sangat bermanfaat karena dapat membantu manusia dalam beribadah, yaitu salat, zikir, dan masalah faraid. al-Qur’an banyak menunjukkan fenomena “ketelitian” dan bukti untuk semua makhluk cerdas di alam semesta. Bukti bahwa al-Qur’an tidak tercampur oleh keinginan manusia. Sifat manusia dari Nabi Muhammad n tidak dapat menginterfensi al-Qur’an. Wa Allâhu a’lam bi ash shawwâb.[] Mutiara Hikmah Dari Ibnu Mas’ud a, Rasulullah n bersabda, إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ، وَلَا يُعْطِي الدِّينَ إِلَّا لِمَنْ أَحَبَّ، فَمَنْ أَعْطَاهُ اللهُ الدِّينَ، فَقَدْ أَحَبَّه. ”Sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada hamba yang Dia cintai dan yang tidak Dia cintai. Namun Allah tidak memberi ilmu agama kecuali kepada orang yang Dia cintai. Karena itu, siapa yang Allah beri ilmu agama, berarti Allah mencintainya.” Ahmad 3672, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf 34545 Marâji’ * Mahasiswi Prodi Ilmu Kimia FMIPA [1] Bush & Young, 1873 2 Buku Digital [2] Salah satunya disebutkan dalam al-Qur’an surat al-Kahfi [18] 49 [3] Abdussakir dan Rosimanidar. Model integrasi Matematika dan Alquran serta praktik pembelajarannya. Buku Digital File lengkapnya dapat di wonload pada link berikut ini Tujuan penelitian ini untuk mengkaji ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan logika matematika teriintegrasi dengan nilai-nilai akhlak. Nilai akhlak dalam penelitian ini menitikberatkan pada akhlak kepada Allah dan akhlak pribadi. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa manusia pada dasarnya memiliki fungsi utama penciptaan yaitu sebagai hamba akhlak kepada Allah dan sebagai khalifah akhlak terhadap pribadi. Ketika kedua akhlak tersebut terimpelentasikan dalam kehidupan maka diharapkan dunia pendidikan akan mampu melahirkan generasi yang diharapkan oleh Undang-undang. Penelitian ini merupakan penelitian studi pustaka dengan menggunakan teknik analisis deskriptif. Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan terdapat ayat-ayat dalam juz 30 bermuatan logika matematika seperti negasi, konjungsi, disjungsi dan implikasi yang berkaitan dengan nilai-nilai akhlak. Kesimpulan dari penelitian ini adalah nilai akhlak yang terintegrasi dalam logika matematika pada ayat-ayat dalam juz 30 adalah taqwa, khauf, syukur, muroqobah, shidiq, amanah, istiqomah, iffah, mujahadah, tawadlu’, dan sabar. Hasil penelitian ini bisa diimplementasikan dalam pembelajaran matematika yang terintegrasi sebagai salah satu upaya penanaman akhlak/karakter pada Kunci Integrasi, Logika Matematika, Nilai Akhlak To read the full-text of this research, you can request a copy directly from the authors.... [6] Mathematics is essential because it can help children's ability to think logically to sort out right and wrong Islamic norms. [4][26] [27] The first Islamic value-based mathematics learning indicator is the existence of an honest or Siddiq attitude. Being honest in this case is that students cannot blame a theorem or definition that has been proven correct to reach the answer to the desired calculation. ...... Mathematics is based on consistency and systematics in solving every problem. [27] The following Islamic value in learning Mathematics is self-confidence. Students are required to be confident when solving problems so that they do not need to look for the truth of answers from other friends. ...... The concept of conjunctions in mathematical logic also aligns with the istiqomah principle stated in Surah Al Bayyinah verse 5, so we are always istiqomah in carrying out God's commands. [27] Then, 15% of the articles show that Islamic-based Mathematics learning contains self-confidence. Confidence will encourage students to believe in the truth of their answers, so they will not see other friends' responses when working on questions. ...Nailil HikmahArghob Khofya HaqiqiBahan ajar matematika yang diintegrasikan dengan nilai keislaman akan lebih menarik bagi siswa. Pasalnya dengan pengintegrasian tersebut, siswa akan mengetahui bahwa matematika berkaitan dengan nilai-nilai agama dan kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan e-modul electornic module matematika terintegrasi nilai-nilai Islam berbasis pendekatan saintifik pada materi bentuk aljabar yang valid dan menarik. Jenis penelitian yang digunakan merupakan penelitian pengembangan Research and Development menggunakan model ADDIE Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Instrumen dalam penelitian ini terdiri dari lembar angket validasi dan angket respon kemenarikan peserta didik terhadap produk. E-modul matematika ini divalidasi oleh para ahli yaitu ahli materi dengan perolehan nilai rata-rata akhir 3,8 , ahli agama 3,9 dan ahli media 3,5. Ketiga hasil validasi tersebut masuk pada kriteria “Valid”. Sedangkan uji respon terdapat dua kali pengujian yaitu uji kelompok kecil dengan perolehan rata-rata 3,27 dan uji kelompok lapangan 3,30. Kedua hasil uji respon tersebut masuk pada kriteria “Sangat Menarik”. Dari hasil tersebut, dapat dikatakan bahwa produk e-modul matematika ini valid, menarik dan dapat digunakan untuk pembelajaran adalah sebagai berikut 1Dalam Al-Qurdalam Al-Qur"an adalah sebagai berikut 1Al-Qur"an dan Terjemahnya. Bandung Diponegoro DepdiknasDepartemen AgamaDepartemen Agama RI. 2011. Al-Qur"an dan Terjemahnya. Bandung Diponegoro Depdiknas, 2006, Undang Undang No 3 2003, Sistem Pendidikan NasionalMarzukiMarzuki. 2017. Pendidikan Karakter Islam. Jakarta Sinar Grafika OffsetRinaldi MunirRinaldi Munir. 2009. Matematika Diskrit.. Bandung Informatika Salafudin. 2015.Kuliah Akhlaq. Yogyakarta. Pustaka PelajarYunahar IlyasYunahar Ilyas. 2009. Kuliah Akhlaq. Yogyakarta. Pustaka Pelajar

ayat alquran yang berhubungan dengan logika matematika